Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengatakan bahwa keputusan Amerika untuk memotong bantuan kepada rakyat Palestina adalah pemerasan politik murahan yang mencerminkan perilaku tidak bermoral pemerintah Amerika dalam menghadapi rakyat berkeadilan.

Dalam sebuah pernyataan yang diungkapkan juru bicaranya Fawzi Barhoum Sabtu (20/1), ia mengatakan, keputusan ini datang dalam konteks rencana Amerika-Israel untuk melikuidasi masalah Palestina dan mengimplementasikan perjanjian Deal of cenutury.

Hamas menyerukan kepada semua lembaga hak asasi manusia, lembaga kemanusiaan dan internasional, komunitas internasional dan negara-negara di kawasan itu untuk menolak kebijakan Amerika ini. Ia juga menyerukan penentangan terhadap sikap rasis Amerika dan sebaliknya meminta masyarakat dunia untuk lebih banyak mendukung rakyat Palestina dan tujuannya secara adil.

Sementara itu, The Jerusalem Post mengutip mantan kepala Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) di wilayah Palestina, Dave Harden, yang mengatakan, pihaknya bermaksud menghentikan pendanaan semua proyek di Palestina.

Dia mencatat, staf Badan AS di Tepi Barat dan Jalur Gaza baru-baru ini meninggalkan wilayah Palestina bersama keluarga mereka.

Surat kabar itu mengatakan keputusan untuk menghentikan bantuan datang setelah disahkannya undang-undang pemberantasan terorisme yang disahkan oleh Kongres AS Oktober lalu.

Undang-undang ini mewajibkan PA untuk berhenti membayar keluarga tahanan dan para syuhada dengan imbalan menerima bantuan AS.

Dilaporkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat telah mengirim pejabat keamanan ke Kongres untuk mengubah teks Undang-Undang tersebut untuk memastikan koordinasi keamanan yang berkelanjutan dengan Otoritas Palestina

 

Sejumlah operasi perlawanan yang mengejutkan Israel dan menewaskan sekitar 13 orang dan melukai 215 lainnya, dari kalangan tentara dan pemukim yahudi, terjadi di Tepi Barat dan Al-Quds.

Operasi perlawanan telah menyulitkan Israel, antara lain pelaku berhasil melarikan diri dengan selamat, menjadi karakter utama di tahun lalu.

Operasi pertama terjadi di awal tahun 2018, penembakan yang dilancarkan syahid Ahmad Nasr Jarrar, yang menewaskan seorang pemukim yahudi dekat permukiman Havat Gilad, Selatan Nablus, dan pelakunya melarikan diri dengan selamat, dan baru beberapa waktu kemudian meninggal setelah diburu yang berlangsung hampir satu bulan, dalam bentrokan senjata di kota Yaman, seperti dirilis Hurriyah News.

Para pertengahan Maret, eks tawanan Ala Ratib Abdul Latif Qabha (26) warga desa Barta’ah Jenin, melancarkan operasi penabrakan, yang menewaskan dua orang tentara Israel, salah seorang dari keduanya adalah perwira tinggi, dan melukai 4 orang lainnya, dan pelaku baru bisa ditangkap setelah ditembak dan mengalami luka-luka.

Pada akhir Mei, seorang tentara Israel dinyatakan tewas dari satuan Dovdovan akibat luka parah di kepalanya, setelah dilempari dengan sepotong marmer di kawasan kamp Am’ari.

Pada Juli, seorang pemuda Muhammad Thariq Yusuf berusia 17 tahun, melancarkan operasi penikaman di permukiman Adam, Al-Quds Timur, yang menewaskan seorang pemukim yahudi dan melukai dua orang lainnya. Pelaku kemudian meninggal setelah ditembak pasukan Israel di kota Kobar, Ramallah pusat.

Syahid Ashraf Na’aluh melancarkan operasi penembakan di kawasan industri Burkan dekat permukiman Ariel Israel di wilayah Palestina kota salfit, Utara Tepi Barat, yang menewaskan dua orang Israel dan melukai satu orang lainnya luka parah. Na’aluh berhasil melarikan diri dengan aman dan menjadi buronan selama hampir dua bulan, sampai kemudian meninggal dalam bentrokan senjata dengan pasukan Israel, setelah berlindung di rumah keluarganya, di kamp Askar, Nablus.

Selama tahun kemarin, terjadi sejumlah penabrakan dan penikaman yang melukai sejumlah warga Israel, termasuk dua orang luka parah akibat penikaman di dekat perlintasan Hawarah, kota Nablus, Utara Tepi Barat pada 10 Oktober.

Dan pada Desember, keluarga Barghutsi melancarkan operasi penembakan, yang dilakukan oleh Sholeh Umar al Bargutsi, dekat Ramallah, yang melukai 13 orang zionis.

Kemudian dilanjutkan oleh saudaranya Ashim al Bargutsi yang melancarkan penembakan di permukiman Jabat Asav, Ramallah Timur, yang menewaskan dua orang tentara dan melukai sejumlah lainnya dari jarak dekat.

 

Puluhan warga Palestina dan sejumlah aktifis perdamaian Israel dan relawan asing menggelar aksi demonstrasi pada hari Jumat kemarin, di kawasan Syekh Jarrah, pusat kota Al-Quds, menentang keputusan Israel mengosongkan rumah-rumah Palestina untuk kepentingan asosiasi permukiman zionis.

Kantor berita Anadholu melaporkan, para peserta aksi membawa spanduk menentang penjajah zionis, dan tindakan pemukim zionis mengincar rumah-rumah Palestina di kota Al-Quds.

Slogan yang ditulis di spanduk, “Syekh Jarrah Merupakan Palestina,” “Kami Ingin Tetap di Rumah-rumah Kami” “Hentikan Permukiman di Al-Quds.”

Slogan ditulis dengan tiga bahasa; Arab, Inggris dan Israel.

Turut hadir dalam aksi demonstrasi anggota parlemen Israel dari partai kiri Merits, Yosy Raz.

Raz mengatakan kepada Anadholu, “Kami akan terus berdemo menentang pengusiran warga Palestina, sampai pemerintah Israel mengubah kebijakan pengusiran mereka.”

Menurutnya, sangat ironis hanya ini yang bisa kami lakukan, berdemo dan berunjuk rasa.

Raz mengatakan, “Para pemukim yahudi memanfaatkan hukum untuk kepentingan mereka, yang mengesampingkan pandangan Palestina dalam masalah ini.”

Pada 3 Januari lalu, otoritas Israel memerintahkan 5 keluarga Palestina untuk mengosongkan rumah mereka di kawasan Syekh Jarroh dalam tempo 20 hari.

Sementara itu para pemukim yahudi telah mengincar rumah-rumah Palestina ini sejak beberapa tahun lalu.

Kawasan Syekh Jarrah hampir setiap hari didatangi ratusan pemukim yahudi, mereka menunaikan ritual keagamaan di makam di gua Shimon.

Para pemukim yahudi mengklaim kawasan ini setara dengan pemakaman tokoh agama yahudi, namun rakyat Palestina menegaskan, yang mereka klaim keliru, karena karena kuburan tersebut adalah makam syekh Sa’di, kakek dari keluarga Hijazi yang terkenal di Al-Quds.

Kawasan Syekh Jarrah, merupakan kawasan Palestina yang banyak diincar oleh kelompok permukiman Israel di Al-Quds Timur. (mq/pip)

 

Sejumlah demonstran pawai kepulangan mengalami luka-luka, akibat tindakan represif Israel di Gaza Timur.

Laporan kementerian kesehatan Palestina di Gaza, terdapat 30 korban luka tembak di Gaza Timur, termasuk 2 wartawan, 3 tim medis, dan tembakan menyasar 3 ambulan: 2 milik Sabit Merah, 1 Bantuan Medis.

Warga Gaza berdatangan hadir ke sejumlah kemah kepulangan di Gaza Timur, untuk berpartisipasi dalam aksi Jumat ke 43 pawai kepulangan akbar dan pencabutan blockade.

Koresponden Pusat Informasi Palestina mengatakan, ribuan demonstran berdatangan ke kemah-kemah kepulangan di Gaza Timur, untuk berpartisipasi dalam aksi Jumat “Persatuan Jalan Kemenengan”, untuk menegaskan pilihan bagi persatuan bangsa Palestina, guna meraih kemenangan dan menggagalkan konspirasi.

Pasukan Israel menembaki para demonstran menggunakan peluru tajam dan gas air mata.

Komite nasional pawai kepulangan dan pencabutan blockade menyerukan kepada segenap warga di Gaza untuk hadir dalam aksi Jumat Persatuan Jalan Kemenangan, ke sejumlah kemah kepulangan di lima titik di Gaza Timur.

Juru bicara Hamas, Hazim Qasim mengatakan, keseriusan rakyat Palestina berpartisipasi dalam pawai kepulangan akbar dan pencabutan blockade, Jumat ke 43, yang menegaskan bahwa rakyat Palestina siap melanjutkan perjuangan untuk meraih tujuannya.

Qasim menyebutkan, pawai kepulangan akbar memilih tema “Persatuan Jalan Kemenangan dan menggagalkan konspirasi” dilatari keyakinan rakyat bahwa perjuangan menuntut persatuan barisan dan visi, serta kerja bersama di medan perjuangan melawan penjajah zionis.

Aksi Jumat ini membawa pesan bahwa tantangan berat yang dihadapi Palestina menuntut persatuan nasional, dan perlawanan yang menginisiasi pawai kepulangan sebagai salah satu bentuk perjuangan, mampu menggagalkan semua konspirasi terhadap hak Palestina.

Warga Palestina sejak 30 Maret 2018, meluncurkan pawai kepulungan damai dekat pagar perbatasan yang memisahkan antara Gaza dan wilayah Palestina jajahan tahun 1948, menuntut kepulangan pengungsi ke kota-kota dan desa-desa tempat mereka diusir dari sana tahun 1948, dan menuntut pencabutan blockade Gaza.

Militer Israel merespon pawai kepulangan damai dengan represif, menembaki mereka dengan gas air mata dan peluru tajam, yang menewaskan 258 demonstran, termasuk 11 jenazah yang ditahan Israel dan belum tercatat dalam daftar korban meninggal di kementerian kesehatan Palestina. Sementara korban luka mencapai 26 ribu demonstran, termasuk 500 luka parah.

 

Pasukan penjajah zionis menangkap seorang pemuda Palestina dalam konfrontasi di kota Kafr Qudur, Qalqilia Timur, Utara Tepi Barat, dan menganiaya dua wartawan dan sejumlah warga.

Menurut sumber di lapangan, tentara Israel menangkap seorang pemuda, Thariq Hikmat dalam konfrontasi yang berlangsung di kota tersebut, pasukan Israel menembaki demonstran menggunakan gas air mata secara intensif.

Disebutkan bahwa tentara Israel menganiaya dua orang wartawan yang tengah meliput aksi pekanan, dan melarang masuk dan keluar warga dari kota tersebut.

Pasukan Israel menyerbu sejumlah kawasan di Tepi Barat, membubarkan aksi massa pekanan menentang tembok rasial dan permukiman zionis.

Warga Palestina di kota-kota Tepi Barat menggelar aksi demonstrasi menentang penjajah zionis, terinspirasi aksi pawai kepulangan di Gaza Timur, setiap pekan di hari Jumat menggelar aksi yang sama di segenap pelosok Tepi Barat, menegaskan kesatuan Palestina dan menentang kebijakan otoritas yang melakukan kerjasama dengan penjajah zionis.